Nasdem Tanggapi LSI Denny JA: Banyak Faktor Naikkan Elektabilitas

33

Sekjen Partai Nasdem Johnny Plate mengatakan, hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang menyatakan elektabilitas Partai Nasdem sebesar 4,2 persen, sudah terlihat bagus. Sebab, pada Pemilu 2014, elektabilitas partai pimpinan Surya Paloh itu memperoleh 1,6 persen.

“Bagus dong kalau 4,2 persen,” kata Johnny di Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Ia menyebut, hasil elektabilitas ini bukanlah tolak ukur dari hasil akhir. Johnny menilai, terdapat beberapa faktor pula yang berpotensi menaikkan elektabilitas partai politik.

Faktor itu, kata dia, seperti calon legislatif yang akan diusung saat Pileg hingga calon presiden yang akan diusung saat Pilpres 2019. Partai Nasdem telah menyatakan akan kembali mengusung Presiden Jokowi.

“Ketiga itu infrastruktur partai, keempat itu efek satu Pilkada. Kemenangan-kemenagan kader di Pilkada akan memberikan efek juga, kalau kader bagus akan angkat elektabilitas dari partai itu sendiri dan banyak faktor lainnya,” papar dia.

Tak hanya itu, Johnny juga menyebut Partai Nasdem juga memiliki tim tersendiri untuk menghitung elektabilitas partai.

“Karena nanti saat rekrutmen calon-calon kita juga akan melihat potensi elektoral calon-calon kami,” jelas Johnny.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil riset tentang isu partai politik di tengah tahun politik. PDIP dan Partai Golkar berada di papan atas.

“PDIP di posisi pertama dengan raihan 22,2% , Golkar 15,5%, Gerindra 11,4%. Ini partai papan atas,” ucap peneliti LSI Rully Akbar di kantornya, Jakarta, Rabu 24 Januari 2018.

Adapun Partai Demokrat, PKB, Nasdem, PKS, PPP, Perindro, PAN, masuk dalam papan tengah, bahkan ada di jajaran papan bawah.

“Demokrat 6,2%, PKB 6,0%, Nasdem 4,2%, PKS 3,8%, PPP 3,5%, Perindo 3,0%. Sedangkan PAN 2,0%, Hanura 0,7%, PSI dan PBB 0,3%, PKPI 0,2%. Responden yang tidak menjawab atau memilih sebanyak 20,7%,” jelas Rully.

Dia menuturkan, PDIP memang masih berada di posisi pertama, namun kecenderungannya menurun. Pada survei sebelumnya pada Agustus 2017 angkanya berada di 28,3%. Sementara pada Desember 2017 meraih 22,7%.

Rully melanjutkan, justru Golkar yang tengah mengalami kenaikan. Dibanding pada Agustus 2017 yang hanya 11,6% dan pada Desember lalu yang mencapai 13,8%.

“Suara PDIP menurun karena pemilih Golkar yang lari ke partai lain, termasuk ke PDIP, kembali ke kandang atau ke Golkar lagi,” ungkap Rully.

LEAVE A REPLY